Kebersihan Lingkungan: Sampah lagi… sampah lagi!

Kebersihan Lingkungan: Sampah lagi… sampah lagi!

Sudah menjadi pemandangan yang biasa jika mendapati ada banyak sampah berserakan. 
Bahkan, hingga membentuk gunungan sampah, yang baunya kadang tak dapat lagi ditahan. 
Seiring problema sampah yang semakin hari semakin menumpuk dan entah bagaimana baiknya 
untuk menanggulangainya. Banyak orang yang menulis tentang artikel kebersihan lingkungan, 
mereka bercerita tentang asal-usul sampah, tentang harapan-harapannya melihat lingkungan 
bersih dari sampah, bahkan tak sedikit mereka yang memberi solusi untuk mengurangi 
penumpukan sampah-sampah itu.
Bahaya di Balik Sampah
Selanjutnya keinginan untuk menuliskan tentang kebersihan lingkungan, memang bisa dikatakan 
sebagai ide cemerlang. Tetapi sebaiknya pula, jangan berhenti hanya sampai di situ saja. 
Sebaiknya bagi si penulis, ada baiknya berusaha merealisasikannya dan mewujudkan sebuah 
lingkungan bersih seperti yang ditulis olehnya. Caranya adalah dengan mengajak masyarakat setempat, 
atau pun menjadi pioneer langsung yang mencontohkan pada orang.
Memang sebenarnya kesadaran terhadap lingkungan harus dimiliki oleh setiap orang. Karena manusia 
adalah mahluk sosial yang selalu hidup bersama-sama. Sekaligus tidak dapat hidup sendiri. 
Karena itu sudah sepantasnya untuk bergotong royong menjaga kebersihan lingkungan dan tempat tinggal.
Karena akibat kelalaian satu orang saja, biasanya akan mengakibatkan kerugian pada banyak orang. 
Misalnya kebiasaan-kebiasaan buruk yakni membuang sampah sembarangan di sungai. Jangan berpikir untuk 
memaklumi prilaku satu orang tersebut yang membuang sampah sembarang. Tapi pikirkan apabila ada seratus 
orang dengan jalan pikiran yang sama, lalu berapa banyak sampah akan menggunung di sungai-sungai?
Padahal sungai ibarat aliran darah di tubuh. Memberi dan menghantarkan nafas kehidupan. Anda bisa 
bayangkan apabila aliran darah itu terhenti yang ada adalah penyumbatan, dan merusak sistem tubuh. 
Begitu juga di kehidupan nyata, apabila sungai sudah macet alirannya karena sampah, yang muncul 
adalah akan meluap mencari jalan aliran lain. Akibatnya adalah banjir yang pada akhirnya merugikan 
bagi masyarakat di seAndar sungai itu sendiri. Demikianlah lingkaran di balik bahayanya sampah.
Namun apa boleh dikata, faktanya saat ini sampah sudah mengelilingi lingkungan Anda. 
Artikel ini akan bercerita tentang sampah-sampah itu. Yang bukan lagi menggunung, namun kini telah 
menjadi lautan. Sehingga, kala musim hujan tiba, siap untuk membentuk jebakan-jebakan memampetkan 
sungai dan aliran-aliran air, hingga akhirnya terjadi banjir.
Berawal dari sampah, yang sering Anda anggap gampang dan remeh. Dengan seenaknya, Anda membuang 
plastik bekas makanan, membuang botol bekas minuman, membuang kantong plastik, kertas, sampah dapur, 
dan sampah lainnya tanpa beban. Tidak memikirkan akan menjadi apa sampah itu nantinya. Atau, pernahkah 
terpikirkan bahayanya sampah-sampah itu terhadap kehidupan Anda?
Buang Sampah Pada Tempatnya Pepatah mengatakan, jika ingin mengubah orang lain, mulailah dari diri sendiri. 
Mungkin hal ini dapat diterapkan untuk mengurangi tumpukan sampah di pinggir-pinggir jalan. Mulailah dengan 
membuang sampah pada tempatnya. Jadikan hal itu suatu kebiasaan yang menyenangkan sehingga Anda melakukannya 
tanpa harus terpaksa.
Sehingga himbauan tentang buanglah sampah pada tempatnya bukan lagi sekedar jargon saja. Tetapi telah menjadi 
budaya masyarakat pada umumnya.
Ada banyak fasilitas yang menyediakan tempat-tempat untuk pembuangan sampah, baik itu di pinggir-pinggir jalan, 
mall, sekolah, kampus, atau tempat-tempat umum lainnya. Kecuali sungai, tentunya. Namun, mengapa ya, sampah 
yang kebanyakan ringan itu sepertinya berat untuk masuk ke dalam tongnya?
Akan lebih baik lagi jika Anda membiasakan diri juga untuk memisah-misahkan sampah yang ada, yaitu sampah 
organik dan nonorganik. Misalnya, sampah-sampah yang mudah diurai, seperti sampah bekas potongan sayuran, 
makanan, atau daun-daunan bisa Anda kubur sendiri di belakang rumah.
Begitu pula dengan sampah kertas, kalau masih bisa dibakar sendiri, mengapa tidak Anda lakukan? Kecuali, 
mungkin untuk sampah plastik. Pemakaian plastik sebisa mungkin diperkecil karena sampah itu sulit untuk terurai.
Manajemen Sampah
Untuk urusan lingkungan bersih, ada baiknya Anda meniru pada pola hidup masyarakat di luar negeri. 
Inggris dikenal memiliki jalan-jalan umum yang luar biasa bersihnya, sedangkan Paris di setiap sudut 
ada tong-tong sampah yang memang benar-benar difungsikan oleh masyarakat setempat untuk membuang sampah. 
Belum lagi Belanda, yang bahkan selalu ada program pendaur-ulang sampah-sampah yang masih bisa didaur ulang. 
Lain lagi dengan Amerika yang memiliki manajemen sampah yang cukup baik penanganannya.
Sehingga bukan hanya budaya hura-hura atau glamour saja yang ditiru oleh bangsa Indonesia, namun kesadaran 
kaum barat untuk bergaya hidup bersih dan sehat juga patut ditiru.
Menilik hal tersebut, agaknya di Indonesia juga perlu adanya program manajemen sampah. Manajemen sampah 
adalah aturan yang mengatur dan mengelola sistem pembuangan dan penanganan sampah.
Manajemen sampah dapat dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:
Biasakan dari anak-anak untuk membuang sampah di tempat sampah, dan jadikan hal ini sebagai budaya 
hidup sehat keluarga.
Mengajarkan anak untuk hidup sehat.
Menyediakan tong sampah yang berbeda, dengan kegunaan untuk: sampah basah, sampah kering dan sampah 
bekas bahan berbahaya (B3), serta sampah daur ulang.
Bedakan setiap tempat sampah dengan warna sesuai dengan aturan kesehatan internasional. 
Yakni hijau untuk tong sampah basah, kuning untuk tong sampah kering, dan merah untuk tong sampah B3, 
serta biru untuk tong sampah daur ulang.
Bentuk organisasi pengelola sampah kota.
Jangan terdiri dari orang-orang yang digaji khusus sebagai orang suruhan, tetapi organisasi pengelola 
sampah tersebut adalah benar-benar organisasi yang digerakkan oleh masyarakat setempat yang dijadikan 
tanggung jawab bersama lingkungan.
Organisasi pengelola sampah tersebut, terdiri atas, wakil, bendahara, dan anggota.
Tugas leader adalah mendata jumlah kepala keluarga, kepala lingkungan (kepala desa/dusun), 
jumlah total masyarakat, jumlah rumah dalam setiap blok/lingkungan, hingga pekerjaan masyarakat 
dan hari atau libur mereka.
Tugas wakil adalah mencari peralatan kebersihan, menyediakan sejumlah tong-tong sampah untuk setiap blok, 
mengatur jadwal piket atau tugas sehari-hari, menghubungi pihak penerima sampah atau TPA (tempat pembuangan akhir). 
Dan juga mengadakan unit-unit kendaraan untuk membuang sampah-sampah, yang dipinjam dari masyarakat sendiri. 
Yang diutamakan adalah jenis kendaraan dengan bak terbuka, sehingga dapat memuat tong-tong sampah atau plastik sampah.
Tugas bendahara adalah mengumpulkan dana swadaya dari masyarakat untuk mendanai sejumlah program kebersihan 
di lingkungan. Beberapa hal yang memerlukan dana adalah: membeli trash bag, membeli tong-tong sampah (trash bin), 
membeli sejumlah pohon untuk ditanam di lingkungan yang berguna untuk menahan air tanah tidak lekas  hanyut,
 dan membeli sejumlah alat-alat kebersihan.
Kemudian pula pengurus menerbitkan majalah-majalah lingkungan yang dikelola secara swadaya, 
yang antara lain isinya adalah berupa artikel kebersihan lingkungan.
Tugas semua anggota adalah terlibat langsung dalam proses pembersihan lingkungan, 
dan bukan mengandalkan pada satu orang yakni petugas kebersihan untuk digaji saja. 
Tetapi tidak memiliki yang terpuji, dengan tetap membuang sampah sembarangan. 
Sehingga proses learning by doing dapat tercipta dengan sendirinya.
Kesemua pengurus dan anggota dari manajemen sampah tersebut, terus melakukan dan membuat 
program-program kebersihan lingkungan. Dan pada tahap selanjutnya bahkan memperluas kegiatan 
dengan program revitalisasi lingkungan  yang menitikberatkan pada program, penghijauan lingkungan, 
pemeliharaan sungai alam, dan pelestarian burung dan hewan alam di lingkungan hidup masyarakat.
Mendambakan Lingkungan Bersih
Sering kali Anda melihat lingkungan negeri orang lain yang tampak bersih dan tertata rapi. 
Tak sungkan Anda puji kebersihannya, lalu berkaca pada negeri sendiri yang kadang merasa 
sedih memperhatikannya. Kapankah lingkungan Anda akan tampak bersih agar sedap dipandang mata? 
Dengan rumput yang menghijau, pohon-pohon tumbuh subur dan tertata, bebas dari sampah. 
Lingkungan yang bersih adalah dambaan setiap orang, bukan?
Bersih berarti sehat, menjaga kebersihan berarti menjaga kesehatan. Bersih diri saja tidak cukup. 
Jika lingkungan seAndar Anda masih banyak yang belum bersih. Lingkungan juga dapat mencerminkan masyarakatnya.
Karena itu, mari Anda imbangi kecanggihan teknologi yang ada dengan kecanggihan menata lingkungan Anda agar 
menjadi bersih. Supaya sungai-sungai itu tak lagi dipadati sampah-sampah, agar ikan dan makhluk hidup lainnya 
yang ada di dalamnya dapat hidup tenang. Dan, Anda pun mungkin akan terhindar dari banjir karena tak akan ada 
lagi yang menghalangi aliran air itu untuk terus mengalir.
Sehingga pada akhirnya jargon hidup sehat, tidak lagi berhenti di selembar artikel kebersihan lingkungan saja, 
namun berubah menjadi  dan budaya.

 

Permalink

Recent Posts

Leave a comment

POST COMMENT

Protected by WP Anti Spam